Beras Putih Tak Selalu Bersih:
Fakta Ilmiah di Balik Bahaya Beras Berpemutih
| "Beras putih yang tampak kinclong di etalase pasar sering kali memikat mata." |
fragmenilmiah.com - Beras putih yang tampak kinclong di etalase pasar sering kali memikat mata.
Namun di balik warna cerah yang menggoda itu, tersimpan pertanyaan besar: apakah beras tersebut benar-benar bersih dan aman untuk dikonsumsi?
Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat soal keamanan pangan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian beras yang beredar di pasaran telah melalui proses pemutihan buatan, bukan karena kualitas alami hasil penggilingan.
Penelitian dari Universitas Padjadjaran (Unpad) tahun 2022 yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian, yaitu R. Nurhasanah, S. Setyowati, dan D. Pratama, mengungkap fakta cukup mengejutkan.
Sebagian pedagang menggunakan bahan kimia seperti klorin, hidrogen peroksida, atau kaporit untuk membuat beras tampak lebih putih dan menarik pembeli.
Padahal, zat-zat ini bukan hanya tidak dibutuhkan oleh tubuh, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Tim peneliti Unpad menjelaskan bahwa dalam proses penggilingan normal, beras sebenarnya memiliki warna putih kekuningan karena masih mengandung sedikit sisa aleuron dan bekatul.
Warna inilah yang justru menandakan beras masih alami dan mengandung nutrisi penting seperti vitamin B kompleks dan mineral mikro.
BACA JUGA: Keberanian Ulama Sejati di Hadapan Penguasa
Namun karena konsumen cenderung menyukai beras berwarna putih bersih, sebagian pedagang nakal memanfaatkan bahan pemutih agar tampak lebih “premium”.
Hasil uji laboratorium yang dilakukan tim ini menunjukkan bahwa residu kimia dari proses pemutihan dapat tetap menempel di permukaan beras.
Kandungan klorin yang tinggi dapat mengiritasi saluran pencernaan, merusak sel hati, bahkan berpotensi menjadi pemicu kanker jika terakumulasi lama di tubuh.
Dari sisi rasa, beras berpemutih juga cenderung kehilangan aroma khas dan tekstur alaminya, membuat nasi terasa hambar dan cepat basi.
Sementara itu, penelitian dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2023 yang dilakukan oleh H. Widodo dan L. Maharani memperkuat temuan tersebut.
Dalam riset berjudul “Analisis Kandungan Kimia dan Daya Simpan Beras yang Mengalami Perlakuan Pemutihan Buatan”, para peneliti menemukan bahwa kadar kelembapan dan stabilitas kimia beras berpemutih jauh berbeda dibandingkan beras alami.
Beras yang diproses dengan bahan kimia lebih cepat menyerap air dan mudah terkontaminasi mikroorganisme.
Ini sebabnya sebagian masyarakat mengeluh beras cepat berjamur atau berubah bau meski baru disimpan beberapa hari.
Peneliti UNS juga menyoroti penurunan kadar protein dan vitamin dalam beras berpemutih hingga 15–20 persen dibandingkan beras yang digiling alami.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat yang semakin sadar akan keamanan pangan.
Jika dulu isu beras plastik sempat menghebohkan, kini beras berpemutih menjadi ancaman terselubung yang tak kalah berbahaya.
Bedanya, kali ini bahaya itu tampak lebih alami karena kasat mata tidak bisa dibedakan dengan beras biasa.
Lalu bagaimana cara mengenali beras berpemutih? Beberapa ahli pangan memberikan tips sederhana untuk konsumen:
Pertama, cermati warna beras. Jika terlalu putih mencolok dan mengilap, bisa jadi itu tanda beras telah dicampur bahan kimia.
Kedua, rendam segenggam beras dalam air bening. Jika air berubah agak keruh dan muncul aroma kimia, sebaiknya hindari.
Ketiga, perhatikan teksturnya beras alami terasa agak kasar dan tidak terlalu licin saat digenggam, berbeda dengan beras berpemutih yang terasa halus seperti diselimuti serbuk.
Selain itu, perhatikan juga label kemasan. Beras yang telah memenuhi standar SNI biasanya mencantumkan nama produsen, izin edar, dan tanggal pengemasan.
Produk tanpa informasi jelas berisiko lebih tinggi mengandung bahan tambahan berbahaya.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional dan BPOM sebenarnya telah menetapkan aturan ketat soal keamanan beras, namun pengawasan di lapangan masih sering lemah.
Dalam konteks ini, tanggung jawab tidak hanya berada di tangan pedagang, tetapi juga konsumen.
Permintaan tinggi terhadap beras putih kinclong mendorong sebagian pelaku pasar mencari jalan pintas untuk memenuhi selera visual pembeli.
Padahal, persepsi “semakin putih semakin bagus” tidak selalu benar.
Justru beras yang agak kekuningan dan beraroma khas sering kali lebih alami dan bergizi.
Para ahli gizi, seperti Dr. Rini Kartikasari dari Institut Pertanian Bogor (IPB), juga mengingatkan bahwa tren memilih beras berdasarkan warna bisa menggeser makna dasar dari pangan itu sendiri.
"Beras bukan soal tampilan, tapi soal nilai gizi dan keamanan konsumsi,” ujarnya dalam seminar keamanan pangan nasional 2023.
Ketika masyarakat lebih mementingkan estetika daripada kesehatan, maka peluang manipulasi pasar semakin terbuka lebar.
Kini, konsumen ditantang untuk lebih cerdas. Jangan hanya tergoda tampilan putih bersih di karung beras.
Jadilah pembeli yang kritis, membaca label, dan berani menolak produk yang mencurigakan.
Dalam hal pangan, keindahan yang menipu bisa berujung petaka.
Beras adalah sumber kehidupan bagi jutaan orang Indonesia.
Menjaganya tetap murni berarti menjaga kesehatan bangsa. Karena itu, langkah kecil seperti memilih beras dengan bijak bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap praktik curang di pasar.
Seperti yang disimpulkan dalam penelitian UNS (Widodo dan Maharani, 2023): “Beras putih belum tentu bersih, dan beras bersih belum tentu putih.”
Sebuah pengingat sederhana bahwa dalam butir nasi yang kita santap, tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga tubuh, keluarga, dan masa depan pangan negeri ini.
0 Komentar