Hujan Mikroplastik:
Fenomena yang Tak Lagi Jauh dari Rumah Kita
| "Kini, hujan tak lagi sesuci itu. Di antara butir-butir air yang jatuh dari langit, para peneliti menemukan sesuatu yang tak kasatmata mikroplastik." |
fragmenilmiah.com - Ketika hujan turun, kita terbiasa menganggapnya sebagai tanda kesegaran.
Bau tanah basah, udara dingin, dan derasnya air selalu identik dengan kebersihan alam.
Namun kini, hujan tak lagi sesuci itu.
Di antara butir-butir air yang jatuh dari langit, para peneliti menemukan sesuatu yang tak kasatmata mikroplastik, partikel plastik berukuran lebih kecil dari 5 milimeter yang kini menjadi bagian dari siklus air bumi.
Fenomena hujan mikroplastik bukan lagi isu jauh dari laboratorium luar negeri.
Ia kini hadir di kota-kota besar Indonesia, bahkan di lingkungan rumah kita sendiri.
Sejumlah penelitian, baik dari luar negeri maupun dalam negeri, menunjukkan bahwa langit kita kini benar-benar “turun plastik”.
Jakarta: Hujan yang Tak Lagi Murni
Penelitian Purwiyanto dkk. (2022) menjadi bukti nyata bahwa mikroplastik kini menembus atmosfer Indonesia.
BACA JUGA: Keberanian Ulama Sejati di Hadapan Penguasa
Dalam studinya yang dilakukan di wilayah pesisir Jakarta, para peneliti menempatkan alat penampung hujan selama satu tahun penuh.
Hasilnya mengejutkan: setiap meter persegi tanah di Jakarta menerima antara 3 hingga 40 partikel mikroplastik setiap hari.
Mikroplastik yang ditemukan sebagian besar berbentuk serat dan fragmen.
Jenis polimer yang paling sering muncul adalah poliester, polietilena (PE), polistirena (PS), dan polibutadiena bahan yang umum dipakai untuk pakaian sintetis, kemasan, dan ban kendaraan.
Artinya, sumber mikroplastik di udara berasal dari aktivitas manusia sehari-hari: mencuci baju, mengendarai motor, hingga membakar sampah plastik.
Penelitian ini dikuatkan oleh hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2025.
Lembaga ini melaporkan temuan serupa: rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.
Menurut para peneliti BRIN, musim hujan justru memperparah deposisi karena partikel mikroplastik di udara larut dan ikut turun bersama air hujan.
Dari Udara ke Tetes Hujan
Penelitian Sari dkk. di Bandar Lampung memperlihatkan bagaimana mikroplastik dapat “naik” ke atmosfer.
Dalam studinya, mereka menemukan partikel mikroplastik di udara kota yang padat lalu lintas.
Asalnya beragam dari debu ban kendaraan, partikel plastik hasil pembakaran, hingga serat dari pakaian.
Ketika kondisi cuaca berubah, partikel ini terbawa angin dan akhirnya turun lagi ke tanah bersama hujan.
Artinya, hujan mikroplastik adalah hasil dari daur balik pencemaran udara yang kita ciptakan sendiri.
Plastik yang dibuang atau terbakar tak benar-benar hilang; ia hanya berpindah bentuk, menguap bersama debu, lalu kembali dalam bentuk hujan.
Fenomena Global: Dari Argentina hingga Jerman
Temuan serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia.
Penelitian oleh Villafañe dkk. (2023) di Bahia Blanca, Argentina, menunjukkan bahwa air hujan di sana mengandung berbagai jenis mikroplastik dengan bentuk serat dan fragmen warna-warni.
Studi ini menegaskan bahwa mikroplastik di atmosfer telah menjadi polusi global, tidak hanya terbatas pada kota industri.
Di Jerman, penelitian Kernchen dkk. (2024) juga menemukan mikroplastik di setiap titik pemantauan baik di kawasan urban, pedesaan, hingga hutan.
Para peneliti mencatat bahwa intensitas hujan dan arah angin memengaruhi banyaknya mikroplastik yang jatuh.
Saat curah hujan tinggi, jumlah partikel yang terdeposisi meningkat drastis.
Ini membuktikan bahwa hujan berperan sebagai pengangkut alami partikel plastik dari udara ke tanah.
Plastik di Langit, Dampaknya di Bumi
Apa artinya semua ini bagi kehidupan kita? Hujan yang membawa mikroplastik bisa mencemari air tanah, sungai, hingga lautan.
Partikel plastik yang sangat kecil mampu menembus lapisan tanah dan terserap oleh tanaman atau organisme air.
Jika terus menumpuk, mikroplastik dapat masuk ke rantai makanan dari ikan, sayuran, hingga air minum yang kita konsumsi.
Para peneliti belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia.
Namun studi awal menunjukkan mikroplastik dapat menyebabkan stres oksidatif dan peradangan pada jaringan tubuh.
Dengan kata lain, ancaman ini bisa masuk ke tubuh kita tanpa kita sadari, seiring waktu dan hujan yang terus turun.
Hujan Plastik di Halaman Kita
Fenomena ini juga memberi pesan sederhana: masalah plastik bukan lagi hanya di laut atau sungai, tetapi kini ada di udara yang kita hirup dan di hujan yang kita nikmati.
Mikroplastik menjadi simbol nyata bahwa polusi modern telah menembus semua lapisan alam.
Kita mungkin tak bisa menghentikan hujan mikroplastik dalam waktu dekat, tetapi kita bisa mengurangi sumbernya.
Mulai dari langkah kecil: mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, memilih pakaian berbahan alami, hingga tidak membakar sampah plastik.
Karena setiap serat plastik yang terlepas dari baju, setiap kantong yang terbuang, dan setiap ban yang terkikis bisa jadi esok akan kembali turun dari langit, mengetuk atap rumah kita bersama hujan.
Kesimpulan
Hujan mikroplastik bukan fenomena masa depan ia sudah menjadi bagian dari realitas hari ini.
Lima penelitian dari Indonesia hingga Jerman membuktikan bahwa partikel plastik kini berputar dalam siklus air bumi.
Langit yang dulunya simbol kemurnian kini ikut menanggung beban sampah manusia.
Maka, sebelum plastik benar-benar menggantikan air dalam hujan, saatnya kita menata ulang cara hidup, mulai dari rumah sendiri.
1 Komentar
Mantapp abg ikiiii hehe
BalasHapus