6 Kota Mati di Indonesia:
Dari Marina City hingga Desa Sinabung
![]() |
| "Tidak semua kota dibangun untuk abadi. Beberapa tumbuh megah di awal, namun pelan-pelan kehilangan denyutnya." |
fragmenilmiah.com - Tidak semua kota dibangun untuk abadi. Beberapa tumbuh megah di awal, namun pelan-pelan kehilangan denyutnya.
Sebagian padam karena bencana, sebagian lagi karena kesalahan manusia dan perubahan kebijakan.
Di Indonesia, ada sejumlah kawasan yang kini dijuluki kota mati tempat yang dulunya hidup dan ramai, kini hanya menyisakan bangunan kosong dan kenangan yang perlahan memudar
1. Marina City, Batam
Di masa kejayaannya, Marina City di Tanjung Riau, Sekupang, Batam adalah magnet bagi wisatawan asing, terutama dari Singapura dan Malaysia.
Deretan kasino, hotel, dan tempat hiburan berdiri di tepi laut, menjadikannya miniatur Las Vegas di perbatasan Indonesia.
BACA JUGA: Ketika Urusan Kredit jadi Teror Jalanan: Celah Hukum yang Dimanfaatkan Debt Collector Ilegal
Namun semuanya berubah ketika pemerintah menutup seluruh aktivitas perjudian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Satu per satu pengunjung menghilang, ekonomi setempat berhenti berdenyut, dan para penghuni pun meninggalkan rumah-rumah mereka.
Kini yang tersisa hanyalah gedung-gedung tak berpenghuni dan pantai yang sunyi saksi bisu dari gemerlap yang pernah hidup di sana.
2. Kawasan Perumahan Tommy Soeharto, Karawang
Di Karanganyar, Karawang, pernah berdiri kawasan elite yang digagas oleh Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto pada awal 1990-an.
Lahan perkebunan karet milik keluarga Cendana itu sempat disulap menjadi kawasan hunian dan properti megah.
Namun masa reformasi membawa perubahan drastis. Penjarahan melanda kawasan tersebut, bangunan rusak, dan penghuninya pergi tanpa kembali.
Kini, kawasan itu menjadi hamparan rumah kosong dengan tembok kusam dan ilalang tinggi, menyimpan kisah suram tentang ambisi pembangunan yang terhenti di tengah jalan.
3. Desa Berastepu, Karo
Desa ini pernah menjadi permukiman subur di kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Namun letusan besar pada 2013 mengubah segalanya. Awan panas dan hujan abu membuat penduduk harus direlokasi.
Sejak saat itu, Berastepu menjadi desa mati. Rumah-rumah dibiarkan dalam keadaan terbuka, kursi kayu, lemari, dan bahkan mainan anak-anak masih tertinggal di dalamnya.
Alam perlahan mengambil alih; rumput liar menutupi jalan, dan udara di sekitar terasa sepi sekaligus mencekam.
4. Desa Simacem, Karo
Tak jauh dari Berastepu, Desa Simacem bernasib serupa. Sebelum erupsi Sinabung, desa ini dikenal sebagai sentra sayur-mayur yang makmur.
Namun kedekatannya dengan kawah membuatnya masuk zona merah bencana. Penduduk meninggalkan rumah mereka secara permanen, meninggalkan ladang yang dulu hijau dan gudang hasil tani yang kini hanya bangunan tanpa suara.
Di beberapa titik, masih terlihat barang-barang pribadi yang tertinggal, seolah pemiliknya akan kembali, meski waktu sudah lama berhenti di sana.
5. Kawasan Lumpur Panas Sidoarjo, Jawa Timur
Pada 29 Mei 2006, semburan lumpur panas dari pengeboran PT Lapindo Brantas mengubah wajah Sidoarjo. Lumpur itu tak hanya menelan sawah dan rumah, tapi juga 21 desa yang kini hilang dari peta.
Ribuan warga harus mengungsi, sebagian kehilangan rumah dan tanah selamanya. Kini, kawasan itu menjadi dataran luas berlapis lumpur kering, di mana pipa-pipa besar masih mengepulkan gas panas.
Bagi sebagian orang, tempat ini menjadi monumen peringatan tentang bagaimana kesalahan teknis dan kebijakan bisa menghancurkan ekosistem permukiman manusia.
6. Kampung Mati Majalengka, Jawa Barat
Kampung mati ini berada di Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka. Dulu, kawasan ini ramai dan subur, dihuni ratusan keluarga.
BACA JUGA: 7 Tokoh Filsafat Alam atau Pra-Socratic, Serta Penjelasan Gnoti Seauton dan Maieutica-technic
Namun pada 2006, pergerakan tanah besar terjadi dan memaksa relokasi lebih dari seratus keluarga.
Sejak itu, kampung berubah menjadi sunyi. Dinding-dinding rumah retak, genting berjatuhan, dan pohon-pohon liar tumbuh di antara jalan setapak.
Di malam hari, suasana heningnya menciptakan kesan mistis yang membuat orang enggan melintas.
Namun di balik itu, kampung ini adalah bukti nyata rapuhnya tanah dan pentingnya mitigasi bencana di wilayah rawan geologis.
7. Kampung Vietnam, Jakarta Timur
Kawasan ini pernah ramai dengan aktivitas sosial. Di Kramat Jati, Jakarta Timur, kampung ini bahkan memiliki sekolah dan panti jompo.
Namun banjir besar pada 2002 membuat semua berubah. Air menghancurkan fondasi rumah, warga direlokasi, dan kawasan itu dibiarkan kosong.
Kini, bangunan-bangunan tua masih berdiri dengan dinding berlumut dan jendela pecah.
Kampung Vietnam menjadi simbol tentang bagaimana urbanisasi dan perubahan iklim dapat meninggalkan ruang-ruang mati di jantung ibu kota.
Kota-kota mati ini bukan sekadar kisah mistis atau tempat angker seperti yang sering digambarkan.
Mereka adalah cermin perubahan sosial, kesalahan kebijakan, dan ketidakmampuan manusia melawan kekuatan alam.
Dari Marina City hingga Sinabung, setiap kota mati menyimpan pesan yang sama: bahwa kemakmuran dan kehidupan kota bergantung pada keseimbangan antara ambisi manusia dan batas alam.
Ketika keseimbangan itu rusak, yang tersisa hanyalah ruang kosong, dan kenangan yang perlahan dilupakan.

0 Komentar