10 Bentuk Manipulasi Psikologis yang Sering Terjadi Menurut Riset Modern
Ada Gaslighting dan Love Bombing
| "Banyak perilaku yang tampak wajar ternyata memiliki pola yang telah dibahas dalam berbagai penelitian psikologi." |
fragmenilmiah.com - Manipulasi psikologis bukan hanya terjadi dalam hubungan toksik, tetapi juga dapat muncul dalam interaksi sosial sehari-hari.
Banyak perilaku yang tampak wajar ternyata memiliki pola yang telah dibahas dalam berbagai penelitian psikologi, komunikasi, maupun kajian kekerasan relasional.
Berikut rangkuman sepuluh bentuk manipulasi yang sering muncul, lengkap dengan istilah resminya dan temuan ilmiahnya.
1. Idealization Overload
Istilah populer: Love Bombing
Love bombing adalah pola manipulasi yang diawali dengan pemberian perhatian, validasi, dan pujian berlebihan untuk menciptakan ketergantungan emosional.
Penelitian Universitas Komputer Indonesia (2022) menunjukkan bahwa love bombing terdiri dari fase idealisasi, penurunan nilai (devaluation), dan penarikan diri untuk mencapai kontrol emosional.
Sementara itu, kajian Universitas Pendidikan Indonesia (2023) menggolongkan love bombing sebagai bagian dari kekerasan berbasis gender karena membuat korban sulit membedakan kasih sayang dan manipulasi.
Temuan ini menegaskan bahwa pemboman cinta bukan sekadar romantisasi, melainkan teknik kontrol yang sistematis.
2. Economic Control
Istilah populer: Economic/Financial Abuse
Kontrol ekonomi adalah bentuk manipulasi yang memanfaatkan akses keuangan untuk membatasi kebebasan seseorang.
Studi scoping review yang diterbitkan dalam BMC Public Health (2022) menemukan bahwa economic abuse terdiri dari tiga pola: pembatasan akses uang, sabotase finansial, dan eksploitasi ekonomi.
Hubungan yang dipengaruhi kontrol finansial sering membuat korban tidak mampu keluar dari lingkaran kekerasan, karena pelaku menciptakan ketergantungan material yang sulit diputus.
3. Reputation Distortion
Istilah populer: Smear Campaign
Smear campaign adalah strategi merusak citra orang lain melalui penyebaran informasi negatif, fitnah, atau penguatan narasi buruk.
Dalam literatur komunikasi interpersonal, smear campaign dikaitkan dengan konsep character assassination, yaitu upaya terstruktur untuk menurunkan kepercayaan publik terhadap seseorang.
Beberapa penelitian komunikasi politik menggambarkan teknik ini sebagai bentuk manipulasi yang memanfaatkan bias kognitif audiens, terutama kecenderungan percaya pada informasi buruk yang berulang.
4. Reality Distortion
Istilah populer: Gaslighting
Gaslighting adalah manipulasi intens yang membuat korban meragukan persepsi, ingatan, hingga kewarasan diri.
Konsep modern gaslighting dikembangkan sosiolog Paige L. Sweet (University of Michigan), yang mendefinisikannya sebagai “kekerasan epistemik” karena pelaku mengacaukan cara korban memahami realitas.
BACA JUGA: Bengkulu Utara sebagai Sentra Budidaya Ikan Nila dan Mas: Potensi Ekonomi yang Terus Bertumbuh
Gaslighting ditemukan umum dalam relasi berkuasa, baik dalam hubungan keluarga, pasangan, maupun dinamika kerja.
Penelitian Sweet menunjukkan bahwa gaslighting bukan hanya tindakan individual, tetapi juga dipengaruhi struktur sosial dan ketimpangan kuasa.
5. Emotional Withdrawal
Istilah populer: Silent Treatment
Silent treatment adalah penarikan komunikasi secara sengaja untuk menghukum, mengendalikan, atau menciptakan tekanan emosional pada korban.
Artikel ilmiah dalam jurnal Litera Kultura (2023) menyebut silent treatment sebagai bentuk “kekerasan relasional” karena menghasilkan rasa terisolasi, kecemasan, dan ketidakpastian pada pihak yang diabaikan.
Teknik ini sering muncul dalam konflik pasangan, pertemanan, dan bahkan relasi kerja ketika seseorang ingin menunjukkan kontrol tanpa konfrontasi langsung.
6. Victim Role Projection
Istilah populer: Playing Victim
Playing victim adalah strategi menempatkan diri sebagai korban untuk memancing simpati atau menghindari tanggung jawab.
BACA JUGA: Ketika Urusan Kredit jadi Teror Jalanan: Celah Hukum yang Dimanfaatkan Debt Collector Ilegal
Walau belum banyak riset yang memakai istilah eksplisit “playing victim”, konsep ini selaras dengan teori impression management dalam psikologi sosial.
Penelitian tentang manipulasi interpersonal menjelaskan bahwa peran korban palsu dapat digunakan untuk membalikkan posisi, menyudutkan lawan, dan mengamankan dukungan sosial tanpa harus menunjukkan bukti objektif penderitaan.
7. Guilt Induction
Istilah populer: Guilt Tripping
Guilt tripping adalah manipulasi berbasis rasa bersalah untuk mendorong orang lain mengambil keputusan tertentu.
Teori persuasi emosional menjelaskan bahwa rasa bersalah dapat meningkatkan kepatuhan seseorang terhadap permintaan, karena manusia cenderung ingin menghilangkan ketidaknyamanan moral.
Riset komunikasi interpersonal menyebut guilt induction efektif pada individu berempati tinggi dan yang memiliki kecemasan interpersonal.
Walau sering dianggap “sekadar drama”, teknik ini bekerja pada mekanisme psikologis yang terukur.
8. Coercive Threats
Istilah populer: Threat-Based Manipulation
Ancaman, baik verbal maupun nonverbal, merupakan bentuk manipulasi koersif yang memaksa orang lain mengikuti keinginan pelaku.
Dalam riset tentang coercive control yang dipublikasikan di berbagai jurnal hubungan interpersonal, ancaman dipandang sebagai alat untuk mempertahankan dominasi.
Teknik ini dapat berupa intimidasi fisik, ancaman kehilangan hubungan, maupun ancaman sosial seperti mempermalukan korban di lingkungan sekitar.
9. Physical Domination
Istilah populer: Physical Abuse
Physical abuse adalah kekerasan yang menggunakan tindakan fisik untuk menimbulkan rasa sakit atau ketakutan.
Riset kekerasan interpersonal luas membahas bentuk ini sebagai bagian dari coercive control, karena sering menyertai manipulasi emosional dan finansial.
Studi psikologi menunjukkan bahwa kekerasan fisik jarang berdiri sendiri; pelaku biasanya juga menjalankan manipulasi mental, isolasi sosial, dan kontrol ekonomi untuk menjaga dominasi.
10. Emotional Discarding
Istilah populer: Abandonment / Discard Phase
Emotional discarding mengacu pada tindakan menelantarkan seseorang setelah pelaku tidak lagi memperoleh manfaat emosional atau material.
Dalam literatur hubungan toksik, fase discard sering terkait dengan siklus idealisasi–devaluasi–pembuangan yang ditemukan pada hubungan manipulatif.
Penelitian tentang dinamika hubungan narsistik menggambarkan fase ini sebagai puncak kontrol di mana pelaku sudah memperoleh “sumber suplai” baru.
Dampaknya pada korban mencakup kehilangan arah, gangguan harga diri, hingga depresi.
Penutup
Manipulasi psikologis sering terjadi secara halus dan bertahap sehingga tidak mudah dikenali.
Dengan memahami istilah ilmiahnya dan mengetahui bagaimana riset menggambarkan perilaku tersebut, pembaca dapat lebih waspada terhadap pola hubungan yang tidak sehat.
Artikel ini menegaskan bahwa manipulasi bukan hanya tindakan jahat secara moral, tetapi juga fenomena yang telah dibahas dalam penelitian akademik lintas disiplin.
0 Komentar