Kuntau:
Bela Diri Tradisi Bengkulu yang Bertahan di Tengah Gempuran Zaman
| "Praktisi Kuntau memperagakan gerakan klasik, menggambarkan perpaduan antara keterampilan fisik dan tradisi leluhur." |
fragmenilmiah.com - Di sejumlah wilayah Bengkulu, terutama Manna, nama “kuntau” bukan sekadar bela diri.
Ia adalah bagian dari identitas budaya, cerita lama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Meski hari ini mulai jarang dipraktikkan, penelitian menunjukkan bahwa kuntau tidak hanya menyimpan teknik fisik, tetapi juga nilai sosial, sejarah budaya, hingga narasi mistis yang membentuk wajah masyarakat Serawai dan Pino pada masa lampau.
Dalam ingatan masyarakat Bengkulu Selatan, kuntau adalah bela diri yang dahulu dipelajari bukan hanya untuk bertarung, tetapi juga untuk membentuk keberanian dan menjaga kehormatan diri.
Di Manna, Pino, hingga desa-desa Serawai, kuntau menjadi bagian dari kehidupan sosial.
BACA JUGA: Bengkulu Utara sebagai Sentra Budidaya Ikan Nila dan Mas: Potensi Ekonomi yang Terus Bertumbuh
Setiap langkah kaki, kuda-kuda, hingga jurus tangkapan bukanlah sekadar gerak, melainkan cerminan kedisiplinan yang diwariskan.
Namun, seiring perubahan zaman, kuntau perlahan bergeser dari panggung utama hidup masyarakat.
Banyak anak muda kini lebih mengenal bela diri modern seperti karate, taekwondo, atau MMA.
Sementara kuntau yang pernah begitu terhormat mulai tersudut menjadi cerita nostalgia orang tua.
Meski begitu, sejumlah penelitian justru menempatkan kuntau sebagai warisan budaya yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter masyarakat.
Sebuah artikel di ResearchGate menyebutkan bahwa latihan kuntau mampu meningkatkan rasa aman dan kepercayaan diri seseorang.
Para peneliti menemukan bahwa komunitas kuntau membentuk ruang sosial yang mendidik kedisiplinan, solidaritas, dan etika.
Tidak hanya itu. Penelitian Universitas Bengkulu pada 2025 menunjukkan bahwa pelestarian kuntau sangat ditentukan oleh komunikasi budaya antar-generasi.
Para tetua adat, mantan pesilat senior, dan komunitas desa berperan besar dalam memastikan praktik ini tidak hilang.
Mereka bukan hanya mengajarkan jurus, tetapi juga cerita, pantang larang, serta nilai-nilai moral yang melekat pada tradisi.
Sementara dalam kajian etnografi yang dilakukan di Kalimantan dan Sumatera, kuntau dicatat sebagai bentuk bela diri hasil akulturasi budaya Melayu dan Tionghoa.
Seperti halnya berbagai kesenian tradisi di Nusantara, kuntau berkembang dari pertemuan panjang antara pendatang dan masyarakat lokal.
BACA JUGA: Ketika Urusan Kredit jadi Teror Jalanan: Celah Hukum yang Dimanfaatkan Debt Collector Ilegal
Di Bengkulu, kuntau kemudian menyerap unsur Serawai, Pino, Rejang, dan Lembak sehingga melahirkan gaya khas yang sulit ditemui di daerah lain.
Namun, satu sisi lain yang selalu melekat pada kuntauterutama versi lama adalah narasi mistis. Ini pula yang sering muncul dalam cerita warga.
Bahar, warga Desa Masat Kecamatan Pino, menyebut bahwa pada masa lalu ada pengamal kuntau yang dikabarkan memiliki “ilmu kebal”, “silam” (menghilang), atau kemampuan supranatural lainnya. Cerita-cerita ini beredar luas sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat.
Menurut Bahar, ilmu tersebut tidak sembarangan digunakan. Konon seseorang hanya bisa “kebal” ketika dalam keadaan terdesak atau membela diri.
Setelahnya, ada ritual tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada “puyang” atau guru gaib yang diyakini memberi perlindungan misalnya menyembelih ayam atau burung dara.
Narasi semacam ini merupakan warisan cerita lama, yang oleh peneliti dianggap sebagai bagian dari lapisan budaya, bukan inti dari teknik bela dirinya.
Kajian ilmiah melihat unsur mistis itu sebagai bagian dari sistem kepercayaan komunitas masa lampau.
Di banyak daerah Nusantara, termasuk Bengkulu Selatan, masyarakat pada masa dahulu memang menggabungkan bela diri dengan ritual, pantang larang, dan upacara tertentu.
Ini bukan hal aneh: sebelum berkembangnya pengetahuan modern, kekuatan fisik dan keyakinan spiritual memang sering berjalan berdampingan.
Penelitian yang dilakukan di komunitas “Kuntau Sinar Pahlawan” juga menemukan bahwa meski sebagian cerita mistis tetap hidup, generasi pengajar kini lebih menekankan teknik fisik, moralitas, dan filosofi ketimbang hal-hal supranatural. Fokusnya adalah mengajarkan pengendalian diri, disiplin, dan kekuatan mental.
Di sisi lain, persoalan terbesar kuntau hari ini justru bukan soal mistis atau tidaknya, tetapi soal regenerasi.
Banyak anak muda menganggap kuntau kurang relevan, dianggap “tidak masuk akal”, atau kalah menarik dibanding olahraga modern.
Modernisasi, menurut penelitian, menjadi tantangan nyata yang membuat banyak perguruan kuntau di Bengkulu tutup atau tinggal nama.
Padahal, jika melihat fungsinya secara komprehensif, kuntau bukan sekadar seni bertarung.
Ia adalah produk kebudayaan, ruang belajar kedisiplinan, dan bagian dari identitas daerah.
Di dalamnya terdapat nilai historis tentang hubungan masyarakat dengan alam, keyakinan, serta cara mereka membangun keberanian.
Kuntau juga menyimpan potensi besar sebagai budaya lokal yang layak diangkat kembali.
Pemerintah daerah, komunitas seni, peneliti lokal, dan pegiat budaya bisa menjadikan kuntau sebagai bagian dari agenda pelestarian tradisi Bengkulu.
Dengan pendekatan yang lebih modern misalnya melalui festival, kelas bela diri untuk anak, dokumentasi digital, dan riset etnografi kuntau dapat menemukan ruang baru di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, kuntau adalah cermin kehidupan masyarakat Bengkulu pada masa lampau: penuh nilai, penuh cerita, dan penuh pelajaran.
Ia mungkin tidak lagi sepopuler dulu, namun jejaknya tetap tertanam dalam identitas budaya. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah generasi kini ingin merawatnya, atau membiarkannya hilang ditelan zaman?
0 Komentar